Oleh Ari Rakatama
Selamat datang di seri terbaru kami, Climate Locals. Kami menyajikan ulasan para anggota tim E Co. tentang bagaimana perubahan iklim berdampak pada kota mereka. Kami bangga menjadi tim global yang memanfaatkan pengalaman langsung dari berbagai kota di seluruh dunia. Minggu ini, kami akan mengunjungi Bandar Lampung, Indonesia, bersama salah satu konsultan kami, Ari Rakatama, yang membahas dampak banjir, erosi pantai, dan kenaikan permukaan air laut di kotanya…
Saya dibesarkan dan tinggal di Bandar Lampung, sebuah kota dengan pantai yang indah dan lanskap yang hijau. Bandar Lampung adalah ibukota, Provinsi Lampung yang berada Pulau Sumatera bagian selatan. Kota ini memiliki populasi lebih dari 1 juta jiwa dengan luas sekitar 169. Kota ini juga merupakan rumah bagi suku asli nya, yaitu suku Lampung, dan bagi banyak etnis yang datang dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sunda, Tionghoa, Melayu dan Batak. Hal ini membuat kota ini juga dikenal dengan perpaduan budaya yang kaya dan semarak. Objek terkenal di sekitar kota ini antara lain adalah Taman Nasional Way Kambas, Pulau Pahawang sebagai lokasi snorkeling, dan gunung berapi Krakatau yang meletus pada akhir abad ke-19.
Kota ini bergulat dengan dampak perubahan iklim, termasuk banjir, erosi pantai, dan kenaikan permukaan air laut. Pada tahun 2070, curah hujan rata-rata tahunan diproyeksikan akan meningkat sebesar 22%, dan debit air rata-rata tahunan meningkat sebesar 52%, dibandingkan dengan rata-rata tahun 2010.
Kota ini mengalami banjir yang lebih sering akhir-akhir ini. Orang-orang yang tinggal di dekat pantai terpapar banjir pesisir yang disebut ‘rob’, yang terjadi ketika air pasang menyebabkan banjir dan abrasi. Banjir perkotaan juga sering terjadi setiap tahun. Drainase yang buruk dan pengelolaan sampah juga memperparah banjir. 86% dari sampah kota ini bahkan tidak pernah sampai ke tempat pembuangan akhir.
12% dari populasi tinggal di pemukiman kumuh, yang tidak memandang sampah sebagai masalah. Mereka bahkan menggunakannya untuk membangun lebih banyak rumah. Reklamasi pantai di Bandar Lampung terjadi selama 25-30 tahun terakhir. Lahan yang direklamasi ini sangat rentan terhadap kenaikan permukaan air laut dan banjir luapan air sungai. Hal ini menciptakan kelompok rentan yang paling berisiko terkena dampak perubahan iklim tersebut, termasuk anak-anak, lansia, dan penduduk miskin.
Untuk pertama kalinya, banjir melanda lingkungan saya di Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung bagian utara, pada bulan April 2024. Meskipun rumah saya selamat, air menggenang setinggi 10-30 cm di jalanan rumah. Sebuah masjid dan rumah-rumah di lingkungan saya terendam banjir setinggi 20-100 cm. Masyarakat setempat bekerja sama untuk memperbaiki dan membersihkan kembali masjid dan rumah-rumah setelah kerusakan yang disebabkan oleh banjir.
Kota ini menerapkan beberapa langkah untuk mengatasi masalah iklim, dan mengembangkan rencana aksi untuk mengurangi dampak iklim di wilayah-wilayah yang paling rentan. Beberapa upaya antara lain adalah perbaikan infrastruktur dan penghijauan, serta memperbaiki sistem drainase. Namun, upaya-upaya tersebut belum cukup karena keterbatasan dana, infrastruktur yang belum memadai, dan kebutuhan akan strategi adaptasi iklim yang lebih komprehensif. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan keterlibatan masyarakat dengan mendorong upaya adaptasi iklim yang dilakukan secara lokal.
Pendekatan yang dilakukan di Bandar Lampung merupakan bagian dari tren yang lebih luas menuju ketahanan iklim di Indonesia dan Asia Tenggara. Namun, kota ini memiliki tantangan yang unik. Kota ini memiliki topografi yang beragam, mulai dari daerah pesisir, dataran rendah, dan perbukitan. Wilayah pesisirnya rentan terhadap erosi dan kenaikan permukaan air laut, dataran rendah rentan terhadap banjir, sedangkan wilayah perbukitan dan pegunungan rentan terhadap tanah longsor. Kondisi medan yang bervariasi ini mempengaruhi pola iklim lokal, pembangunan infrastruktur, dan perencanaan kota, sehingga membutuhkan solusi khusus untuk ketahanan iklim dan pengelolaan lingkungan.
Untuk mengatasi hambatan akses keuangan yang tidak mencukupi dan tidak memadai, E Co. memiliki pengalaman panjang dalam menyelenggarakan Pelatihan Pendanaan Iklim Kota, untuk membantu aktor lokal seperti pemerintah kota dan LSM lokal dalam mengakses pendanaan iklim. Pekerjaan E Co. sering kali memanfaatkan dukungan internasional dan membina kemitraan lokal untuk meningkatkan ketahanan iklim dan keberlanjutan bagi masyarakat yang rentan.